Lulusan Luar Negeri: Dihargai Bangsa Lain, Dikebiri bangsa Sendiri

Judulnya agak sedikit provokatif ya? Mau gimana lagi,kadang kenyataan perlu diceritakan dan diungkap sepahit apapun. Lalu bagaimana dengan komentar negatif yang akan bilang: “lo sama aja jelekin bangsa sendiri dunk klo gitu caranya”. Well, daripada situ diem aja dan gak mau ngapa-ngapin, lebih baik kita ungkap kebenaran.

Jadi tulisan ini mungkin akan banyak menimbulkan kontroversi, masa bodo lah ya. Dibacanya dengan suasana hati yang tenang dan adem, klo lagi labil jangan dibaca. Oia buat yang lagi galau hindari juga, apalagi yang PMS, please nanti aja bacanya.

Kenapa sih gw nulis kaya gini? Sedikit gw cerita latar belakangnya, gw merasa sedih dan miris banyak asset bangsa ini yang kurang dihargai oleh bangsanya sendiri. Indikasinya apa sih? Banyak banget! Ini mungkin hanya sedikit yang gw alamin, banyak yang lebih tidak dihargai. Yang belum tau, kita (3maskentir), alhamdulillah adalah lulusan dari 2 Universitas di kota Newcastle, United Kingdom. Cerita ini lebih kurang dialami oleh kita bertiga (khususnya dari pengalaman gw sendiri sih).

Oke pasang sabuk pengaman anda, kita akan masuk mesin waktu, kembali ke pertengahan tahun 2012. Saat kita baru selesai melaksanakan kewajiban sebagai mahasiswa, bikin disertasi dan alhamdulillah dapet nilai yang menggembirakan. Karena kita merasa terpanggil untuk kembali ke Ibu Pertiwi, dengan berat hati kita harus mengubur keinginan untuk bekerja di UK (agak dramatis bagian ini). Lalu kita pun mulai menyelesaikan administrasi untuk meninggalkan kota Newcastle. Berdasarkan info dari KBRI London, ada beberapa dokumen yang harus kita lengkapi, kalo gak salah surat lapor diri dan legalisir ijasah, well sebagai warga yang baik kita bela-belain harus ke London. Konon salah satu alasannya adalah supaya kita gak kena tax saat kita kirim barang plus untuk keperluan penyetaraan ijasah di Dikti Indonesia.

Disini masalah belum ada sob, masalah baru muncul setelah kita sampe Indonesia. Gw waktu itu ngirim barang pake salah satu carrier yang ternama. Awalnya merasa aman, ah udah lampirin surat bukti mahasiswa kok, harusnya gak kena tax ya, apalagi isinya cuma baju biasa dan beberapa buku. Tapi kenyatannya jaaauuuuh berbeda, gw dihubungi oleh carrier itu dan dia bilang harus bayar 1.5 juta biar barang bisa keluar! Gw bukannya gak mau bayar, tapi dasar pengenaannya gak jelas, 1.5 juta itu apa! Konon kata si petugas itu yang minta dari bea cukai. Well, they made a mess with a wrong guy! Dengan santainya gw bilang, mas saya udah kasih bukti kalau saya mahasiswa yang pindahan, dan KBRI menjamin saya bebas tax plus isi kargonya juga gak ada yang aneh-aneh! Kalau benar dari bea cukai yang minta, tolong sebutin nama petugasnya dan dasar pengenaannya apa! Kalau jelas saya mau bayar, kalu gak saya mau lapor KPK plus Dirjen Bea Cukai! Akhirnya dia ngalah dan janji barang bakal dikirim (FYI barang sampe Indonesia dalam 3 hari tapi baru sampe rumah sebulan! Jarak UK-Cengkareng jauh lebih deket daripada Cengkareng Bintaro Sob!). Tapi itupun gw musti bayar 150 ribu, alasannya biaya angkut. Oh well, mulai dikebiri!

Masih belum ngantuk kan? Masih panjang ceritanya…

Urusan kedua, masalah penyetaraan ijasah. Awalnya gw ngira nilainya bakal di convert ke IPK, ternyata nggak! #Tetot kedua pun terjadi, sampe di Dikti ternyata ijasah S1 gw salah tempat lahir, hal sepele yang setelah 2 tahun lulus baru ketauan. Oia gw harus penyetaraan ijasah karena mau daftar jadi abdi negara, bayangin sob jadi abdi negara aja udah dipersulit! Sementara gw apply ke perusahaan asing GAK ADA satupun yang mempermasalahkan penyetaraan ijasah! Waktu itu gw disuruh benerin ijasah S1 dulu ke kampus asal (untungnya cuma di Bandung bukan di Jatinangor!). Ngurus ijasah juga makan waktu sob, sebulan baru jadi, alhasil gw lupa untuk ngambil surat penyetaraan di Dikti. Oia, beberapa kali gw bingung ketika ditanya masalah IPK S2, dan gw bahkan sampe nanya ke Uni nya langsung perihal ini. Mereka dengan profesional jawab bahwa sistem pendidikan di UK gak mengenal GPA. Terus gw berusaha cari informasi kesana kemari, dan institusi pendidikan di Indonesia (dalam hal ini Dikti) sungguh membantu! Membantu menghabiskan waktu saya dengan percuma, hotline mereka aja di telpon GAK PERNAH BISA! Atase pendidikan di KBRI pun gak membantu, hanya bilang coba buka: http://www.foreigncredits.com/Resources/GPA-Calculator/, dimana ini bukan institusi resmi! Untungnya perusahaan asing yang saya apply tidak pernah terlalu mempermasalahkan dan memakluminya. Hal yang sangat kontras ketika apply di bidang pemerintahan, gw harus ngotot bilang di Indonesia GAK ADA lembaga buat konversi nilai broh! Lalu apa kabar surat penyetaraan gw? Sampe detik ini gw belum terima sih, alasannya surat hilang karena mereka pindah gudang, dan gw cuma disuruh ninggalin nomer telpon yang konon akan dihubungi kalau ketemu! Dokumen penting jadi gak berarti di mata Dikti, entah bagaimana prosedur penyimpanan dokumen mereka, padahal setau gw ada peraturan yang bilang dokumen penting baru boleh dimusnahkan setelah 5 tahun (CMIIW). Atau karena pengurusan dokumen ini gratis, jadi mereka pun kerjanya santai? Tau dunk kenapa negara kita gak maju-maju!

Gw gak tau ya kenapa nasib lulusan luar negeri begitu mengenaskan! Pak, Bu saya kasih tau nih, disana kita gak hanya kuliah, kita bahkan mempromosikan budaya Indonesia. Kita yang seumur-umur gak pernah main angklung plus belajar tari tradisional. pulang dari sekolah jadi mahir! Meanwhile rekan-rekan yang kuliah di dalam negeri sibuk belajar budaya asing (no offence guys, tapi ini kenyataan pahit yang benar terjadi kan).

Kemudian gw bepikir, oh hal ini yang bikin asset kita dicaplok asing. Kita lebih dihargai oleh mereka, sebagai contoh ketika di kelas gw bilang orang Indonesia gak ada yang mandang, setelah gw bilang kerja di salah satu KAP Big Four baru mereka bilang: “that’s cool mate, I want to work there, you must be so smart!”. Gw bingung antara seneng atau sedih, ternyata negara kita segitu gak di kenal. Gw jadi mikir, oh ini kenapa orang sekaliber Pak Habibie memilih untuk tinggal di Jerman dan berkarya di sana sebagai anak bangsa, menciptakan berbagai penemuan yang dihargai oleh bangsa luar daripada ada di negeri sendiri dan dikebiri! Salut untuk beliau karena akhirnya kembali ke Indonesia dan memproduksi pesawat kembali walau minim dukungan dari pemerintah. Sementara pemerintah dan rakyat kita lebih bangga terhadap produksi mobil dalam negeri yang konon tak layak jalan! Itu baru satu contoh, masih banyaaaaaaak aset terbaik bangsa ini yang dicampakkan.

Gw pun berkesimpulan di Indonesia, lo gak perlu jadi cerdas dan pandai untuk dikenal dan dihargai oleh bangsa sendiri. Cukuplah jadi orang bodoh yang gemar memamerkan kebodohannya dan buatlah pencitraan sebanyak mungkin. Bapak dan Ibu pemegang kekuasaan di Indonesia, sampai kapan kami aset-aset terbaik bangsa dipandang sebelah mata oleh anda, sementara negara lain memuji kami? Haruskah kami gadaikan nasionalisme kami karena ini semua?

Yuk kita pindah aja kalau begitu, cari suaka ke negara lain 🙂

This entry was posted in Story and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Lulusan Luar Negeri: Dihargai Bangsa Lain, Dikebiri bangsa Sendiri

  1. indri says:

    Wooow, what a horrible experience. Baca pengalaman Mas ini bikin jiwa PNS saya galau. Bagaimana tidak, saya bekerja di lingkungan di mana terdapat stereotype bahwa profesionalisme adalah belakangan, kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah. Memang tidak semua seperti ini. Tapi namanya juga stereotype, Hehehe. Sedih banget ketika kerja keras kita tidak dihargai, bahkan nasionalisme kita dipandang sebelah mata. Menurut saya, kalau Mas memutuskan untuk hijrah for the better, itu bukan berarti nasionalisme Mas tergadaikan. Dari tempat yang lebih baik, bisa jadi justru nasionalisme itu semakin menggebu-gebu. Bahkan mungkin, banyak yang lebih bisa dilakukan untuk negara tercinta ini dari tempat lain, dari pada berada di sini dan sedikit melakukan sesuatu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *