Menang(is)

Saya mau memulai tulisan ini dengan mengutip sebuah sajak dari R.M Panji Sosrokartono:

“Sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji.
Trimah mawi pasrah
suwung pamrih tebih
ajrih langgeng tan ana susah tan ana bungah
anteng manteng sugeng jeneng”

Atau dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai berikut:

Kaya tanpa harta
Tak terkalahkan tanpa kesaktian
Menerima juga pasrah
jika tanpa pamrih tak perlu takut
Tetap tenang meskipun ada duka dan ada suka
Tidak macam-macam membuat nama baik terjaga.

Lalu apa hubungannya dengan judul tulisan di atas? Seperti kita tahu, semenjak awal mula bergulirnya pilkada (khususnya DKI Jakarta), halaman socmed kita menjadi penuh dengan “perang” antara pendukung. Yang semula kawan menjadi lawan, semua tetiba ingin dimengerti (hey tahukah kalian hanya wanita yang selalu ingin dimengerti?). Semua seolah tak ingin jagoannya kalah, hampir semua cara digunakan, entah yang elegan, ataupun yang menurut saya amatir.

Semula saya berpikir bahwa ketika pilkada berakhir maka caci maki, adu argumen, adu ayam, ataupun adu cupang akan berakhir juga. Ah saya layaknya banyak pria di dunia ini, salah…

Hampir setiap saya buka halaman social media, isinya masih saling cela antar pendukung. Bagaikan melihat anak TK yang rebutan makanan atau rebutan gebetan (wait ini salah) rebutan mainan maksud saya :). Kemudian saya berpikir, jangan-jangan orang-orang ini mengidap penyakit seperti tokoh Benjamin Button, dimana makin tambah usia, justru makin kekanakan.

Guys, kita harus move on, biarkan dia bahagia bersama orang lain (ini copas dari tulisan lain, beda tema wooi). Move on andaikata jawara kita kalah, legowo, pasrah, ikhlas. Ikhlas atau legowo emang ilmu paling susah di dunia, soalnya hadiahnya kelak surga (Insha Allah), coba kalau hadiahnya kipas angin apa panci, pasti gampang kan. Padahal tiap hari kita diajari Allah ilmu ikhlas, gak percaya? Coba deh kalian resapi ketika sedang BAB, pernahkah terpikir untuk mengambil kembali apa yang sudah keluar, atau gak terima dengan output dari proses pencernaan kita? Saya rasa tidak ada kan yang gak legowo.

Nah harusnya nih, ilmu itu bisa diterapkan (bagi yang pencernaannya normal). Iya kan tapi kan calon yang itu kampanyenya SARA, yang satu Zaenab, dan Si Doel pun gagal kan jadi Gubernur :D. Terus mau sampai kapan nih, kita larut dalam pusaran ketidakdewasaan dalam menyikapi kekalahan? Gak pada malu nih diliat sama anak-anak kita kelak? Siapa tau anaknya kepo, kemudian dia buka socmed Bapak atau Ibunya, terus liat postingan tentang pilkada yang hampir tiap hari di share.

Inget, pemenang sebenarnya bukan Bapak-Bapak yang kita pilih jadi gubernur, walikota atau presiden kelak, tetapi kitalah yang sebenarnya jadi pemenang. Menang dalam hal apa nih, kan jagoan gue kalah! Menang dalam menyikapi kekalahan, tak usah pakai kekuatan, tak usah pakai kekerasan, toh kalau tanpa pamrih kita tak akan takut.

Kita semua adalah partikel-partikel yang dalam sebuah bangunan  yang harus saling mendukung, melengkapi, dan menjaga. Apa jadinya kalau semen dan air tidak rukun, saling menyalahkan misalnya. Tidak akan ada tuh fondasi bangunan.

Daripada kita menghabiskan waktu saling kelahi, coba mulai besok mulai cari jodoh (bagi yag belum punya), cari rejeki (supaya makin banyak yang bisa disumbangkan) dan jangan cari masalah. Yang kalah, jangan menyalahkan, yang menang jangan jumawa. Ada kalanya menang bisa jadi menangis, seperti kata pepatah: memang jadi arang, kalah jadi abu.

This entry was posted in Story and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *