Satu Jarak, 2hati, 7 Jam

Tes 1,2,3..

Yang dibelakang udah kedengeran kan? Coba yang belum denger angkat tangan. Lah itu katanya gak denger tapi kok angkat tangan,piye toh mas.

Judulnya agak serius nih kali ini, biasa lah ditulis dalam keadaan yang tidak menentu,bukan galau, hanya sedikit bergejolak, namanya juga anak muda kan.

Sebuah catatan tentang bagaimana LDR bisa menyengsarakan anda…

Kenapa sengsara? Karena LDR itu hanya akan hidup dan mati ketika ada cahaya yang datang dan pergi, eh salah itu sih LDR buat anak teknik elektro, Light Dependent Resistor bukan Long Distance Relationship. Ayo kembali merapat, biar hangat.

LDR itu bagaikan kita ada di sebuah kota di benua Eropa dan pasangan kita ada di sebuah kota di Asia, jauh kan dan semua orang juga sudah tau tentunya. Jadi apa ya perumpamaannya? Ah seperti fatamorgana aja ya, seolah nyata namun semu,kenapa begitu? Nyata karena sebenarnya kita punya pasangan namun kita tidak pernah berjumpa dengan dia secara nyata.

Banyak orang berkata LDR itu kan bisa diatasi dengan baiknya komunikasi kan hari gini komunikasi apa sih yang gak ada?Ada skype, bbm, iMessage dan lain-lain. Ada sih yang belum ada, bagaimana kita berkomunikasi dari hati ke hati,hhhmmm, ini yang sulit. Komunikasi kadang terhambat bukan karena media yang tidak ada, tapi adanya perbedaan waktu yang cukup signifikan, 7 jam (berdasarkan eheeem pengalaman orang). Bayangkan kadang di sana sudah pagi sementara di sini tengah malem, belum lagi adanya kesibukan masing-masing individu yang kadang sulit disatukan (apalagi saat musim assignment dan exam).

Berdasarkan pengalaman kami sebagai 3 Pria perkasa nan gagah berani bernama 3Maskentir, pengalaman LDR hanya sukses dijalankan oleh satu orang, yang dua orang bukan gak berhasil ya, perlu kurang belajar. Yang satu perlu belajar mendapat pasangan yang satu perlu belajar bagaimana cara berkomunikasi yang efektif. Siapa yang berhasil? Mau tau aja deh, kepo amat, rahasia kami dunk,hehehehe.

Namun sedikit masukan dan saran bagi yang sedang LDR inti dari semua adalah saling percaya dan tiada dusta diantara kalian. Simple kan teorinya, prakteknya sih nggak, jauh lebih sulit, apalagi buat para pria (duh jadi bocorin rahasia deh). Kami bukannya tak setia tapi kami suka tak tega dengan wanita yang kesepian, hiks..

Selain itu jika kalian sangat takut kehilangan, silahkan diikat dulu pasangannya, pake tali yang kuat, biar gak lepas. Bukan diikat gitu maksudnya, di buat perjanjian dimana disaksikan orang tua dari kedua belah pasangan (baca: di lamar dulu). Sebuah cara yang konon paling efektif dalam menyiasati LDR.

Sebenernya paling enak yang masih single sih, bebas mau ngapain aja, tanpa beban. Yang nulis ini bukan berarti single atau jomblo ya, ada kok yang nunggu di Indonesia, pas sampe bandara tinggal milih (taksi maksudnya), hehehe. Bersyukurlah kalian wahai para single atau yang mengaku single.

LDR memang sulit namun jangan dibikin berbelit, anggap saja ini perjalanan hidup, nikmati dan pelajari untuk kelak dijadikan bahan introspeksi diri (tumben ya gw bener). Buat yang single jangan takut, jodoh kalian sudah ada, tinggal di jemput (kalau bisa pakai Ferrari biar lebih cepet).

Ini sekedar bagaimana cerita mengenai LDR, semoga bisa membuat kita berpikir bagaimana persiapan yang harus dilakukan demi suksesnya hubungan ini. Tujuan akhir tentulah KUA dan penghulu, bener kan?

Ini ceritaku, Mana ceritamu?

Sampai Jumpa..

This entry was posted in Story and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *