Tikunglogi, The Art of War

Seorang bijak pernah berkata, lebih mudah mendapatkan pacar yang sudah ada yang punya daripada yang jomblo. Oh wait, iya juga sih yang satu cuma kompetisi sama satu orang yang satu sama orang banyak. Make sense juga sih, kalo dalam seni perang itu mirip dengan strategi kuda troya, bikin musuh lengah kemudian habisi.

Entah dari jaman kapan ilmu tikunglogi sudah ada di bumi kita tercinta, yang jelas setelah jaman Nabi Adam dan Siti Hawa. Belum pernah ada kajian resmi mengenai kapan ditemukannya metode ini. Siapapun yang jadi penemunya kita wajib berterima kasih.

 Ilmu ini biasa dipraktekan antar dua teman atau bahkan sahabat karib yang diam-diam ternyata menyimpan satu rasa terhadap satu wanita. Entah rasa apapun itu yang jelas tujuannya sama, mau jadi pacarnya. Biasanya ada 2 tipikal manusia yang terlibat dalam interaksi tikunglogi, yang satu agresif dan yang satu diam-diam menghanyutkan. Yang agresif akan melakukan 1001 cara untuk menarik perhatian si wanita dan cenderung suka berbagi cerita dengan orang lain mengenai perasaannya (disini anda mulai salah). Yang bahaya yang diam-diam, dia mencatat, mempelajari dan menyempurnakan metode PDKT si agresif.

Percaya gak percaya metode ini banyak berhasil, pasti pada gak percaya deh. Emang sih belum pernah ada yang menjadikan ulasan ini bahan skripsi (entah jurusan apa yang mau ambil) atau dijadikan jurnal internasional (pasti banyak yang baca). Tapi dari pengalaman (orang), sekali lagi bukan saya presentase nya bisa sekitar 95% berhasil dan 5% tidak gagal.

Metode ini bisa dibilang agak gak gentle sih, semacam nusuk dari belakang. But who care, toh yang namanya kompetisi boleh-boleh aja. Daripada madesu jomblo mulu, terus diejek nanti gantung diri lagi di pohon toge. Yah paling habis itu diem-dieman, gak tegur sapa dan mungkin diam-diam mendoakan (agar cepat putus). Tapi itulah hidup sob, penuh dinamika, siap gak siap yang namanya jalan itu gak selalu lurus, ada yang namanya belokan atau tikungan. Gak semua orang jago di trek yang ada tikungan, tapi sekalinya menguasai ilmu tikunglogi dialah sang pemenang. Gak percaya, itu sih terserah anda, hanya saja rasanya pasti gak enak, konon pedih seperti kena tombak kemudian disiram alcohol 70%.

Hati-hati di depan banyak tikungan, jangan khilaf dan jangan lengah.

This entry was posted in Story and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *