Yang Mau Kuliah ke Eropah Angkat Kaki!

Tolong..tolong angkat kakinya..

Iya bener angkat kaki, bukan angkat tangan. Angkat tangan kan udah biasa, sekarang jamannya angkat kaki. Diitung dulu, wah banyak yah..

Howdy Lad’s..

Piye kabare, kumaha damang?

Alhamdulillah kita kembali menyambangi anda semua di hari yang berbahagia ini, tepat pada tanggal 13 Januari 2012 di hari Jumat. Hayo pada Jumatan gak tadi siang?Yang gak Jumatan kan cuma yang cantik,hehehe. Jadi apa ulasan topik kali ini?

Sebenernya mau nulis tentang bagaimana cara mudah mendapat jodoh, ah tapi itu kan rahasia dapur kami, bisa runyam jika harus disebarluaskan.

Kenapa kami (atau saya) hanya mau bercerita dan sedikit membuat anda pusing. Ah saya juga pusing kenapa masih banyak cowo jomblo padahal jumlah cewe jauh lebih banyak saudara-saudara. Fokus..fokus, jangan OOT ya nanti jadi OON.

Baiklah, beberapa waktu ini saya mmelihat banyaknya semangat teman-teman yang apply scholarship baik dari jalur eksternal maupun internal. Luar biasa semangat kawan-kawan saya ini, salut! Sepertinya ada banyak faktor dan motif (dan juga modus) kenapa banyak yang mau ke Eropah, beberapa alasan yang sering terdengar adalah:

  1. Mencari pengalaman baru (entah apa maksudnya pengalaman disini).
  2. Menambah title di belakang nama (plis jangan nambah dulu yang di depan).
  3. Mau jalan-jalan (well, this is the most important reason).
  4. Mau nonton bola LIVE (padahal nonton di tipi juga LIVE kan).
  5. Mau cari jodoh (desperate gak dapet jodoh di Indonesia).
  6. dan lain-lain

Dari sebanyak itu alasan rasanya cukup masuk akal, sebab ini sudah melalui berbagai penelitian selama bertahun-tahun oleh para pakar (pakar=orang gak punya kerjaan tetap), bercanda lhooo. Buat saya pribadi alasan paling utama adalah nomer 4 (semoga bapak dan ibu saya baca eh gak baca), hehehe. Tentu tidak, alasan utama saya adalah karena saya ingin punya gelar MSc yang dikeluarkan oleh institusi di luar Indonesia. Seperti tidak nasionalis ya alasan saya, iya benar, ada sebabnya, karena mohon maaf (tanpa bermaksud menyinggung) saya mulai kurang percaya dengan kualitas pendidikan di Indonesia yang telah penuh penyimpangan. Banyaknya kasus sarjana aspal bisa dijadikan sebuah kajian mengenai alasan saya.

Sebenarnya kuliah di Eropa itu bukan mimpi teman-teman (sebab jika mimpi hari ini saya masih di kasur). Adalah sebuah perjuangan dan pengorbanan panjang untuk sampai disini, yang tak semua orang berani mengambilnya. Alhamdulillah saya mempunyai keluarga yang amat sangat mendukung saya untuk pergi kesini, baik secara finansial dan juga spiritual. Saya memang bukan dari keluarga berada dan hartawan hanya anak seorang abdi negara namun diajarkan untuk berhenti bermimpi dan mulai berlari mengejar impian kita.

Kok jadi serius sih..

Santai saja seperti di pantai..

Perjuangan apa aja yang membuat kami sampai disini, banyaaaaaaak, antara lain:

  1. Perjuangan untuk tes IELTS
  2. Perjuangan untuk dapet universitas yang dikehendaki
  3. Perjuangan meyakinkan pasangan, bahwa ini untuk masa depan bersama (brb ambil tisu, jadi sedih gini….)
  4. Perjuangan untuk meraih kemerdekaan, karena selama ini di UUD 45 hanya sampai di pintu gerbang, belum masuk juga, makanya kita dijajah mulu, hehehe

Lalu pengorbanan juga tak kalah banyak lhooo, penuh air mata dan keringat, kalau mau diingat kira-kira seperti ini:

  1. Bersedia mengorbankan pekerjaan yang sudah cukup mapan (untung saya boleh cuti).
  2. Meninggalkan rumah makan Sederhana bersama ayam pop dan teman-temannya (astaga, lafaaaaaaaaaaar).
  3. Meninggalkan kekasih hati dan tak ada jaminan hubungan akan berjalan lancar (tisu mana tisu), ini based on true story lho.
  4. Jauh dari keluarga dan juga orang tua (walaupun sudah dewasa saya tetap anak Mama).

Tapi dibalik semua itu percayalah anda akan mendapatkan suatu cerita baru dalam hidup anda, sebuah cerita yang mungkin sulit terulang lagi. Punya sahabat-sahabat baru, hidup baru, kebiasaan baru, tapi belum punya pacar baru…(nyolong curhat).

Tapi tak semua orang mau dan berani mengambil kesempatan yang ada lhoo. Banyak yang sebenarnya mampu secara akademis maupun finansial tapi tidak punya cukup nyali untuk keluar dari zona nyaman mereka dan kembali belajar. Bersyukurlah yang sudah diberi kesempatan oleh Gusti Allah buat datang kesini.Buat para pria yang masih single, percaya gak percaya punya gelar MSc, MBA, MA, dan lain-lain dari Eropa akan meningkatkan bargaining power di mata calon mertua dan calon istri lho. Ini pengakuan dari beberapa wanita dan orang tuanya yang merasa lebih menerima calon semacam ini. Buat wanita,hhmm hati-hati sebab biasanya pria tampan pendidikannya kurang memadai dan mereka cenderung minder dengan title anda lhoo, makanya cari pria jangan dari muka sama dompet aja, tapi pertimbangkan juga isi otaknya, ihiiiy.

Pokoknya asik deh kuliah di Eropa, apalagi kalau sampai dapet jodoh (udah berapa kali alasan ini muncul), tapi saya gak jomblo juga sih, hanya memilih fokus pada pendidikan saya dahulu.

So yang masih mimpi mau kuliah di Europe sudah saatnya anda bangun dan mulai berusaha mewujudkan apa yang anda rencanakan, buat yang sudah berusaha, lanjut gan, Tuhan beserta orang-orang yang mau berusaha, percaya dan yakin usaha anda akan berhasil, jangan pernah berpikir gagal, yang ada kan hanya keberhasilan yang tertunda.

Sekian edisi kali ini, saya undur kursi dulu mau makan dan belajar buat Exam minggu depan, mohon doanya temans.

Terima kasih lho sudah mampir, mohon maaf kalau ada yang tak berkenan, anggep saja saya khilaf, kan kesempurnanaan hanya milik Tuhan Yang Maha Esa dan tentunya Andra & The Backbone.

Sampai jumpa di lain kesempatan.

PS: itu kakinya diturunin coba, emang gak pegel apa dari tadi diangkat,hehehe.

This entry was posted in Story. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *